Menjawab Kesalahan Al-Albani Terhadab Malik Ad-Dar


Al-Albani


Bilal bin al-Harits al-Muzani pergi ke Makam Nabi Muhammad SAW dan Ucapannya: Wahai Rasulullah, mohonkan hujan kepada Allah untuk umatmu, karena mereka telah binasa:

«دلائل النبوة - البيهقي» (7/ 47):
«‌أَخْبَرَنَا ‌أَبُو ‌نَصْرِ ‌بْنُ ‌قَتَادَةَ، ‌وَأَبُو ‌بَكْرٍ ‌الْفَارِسِيُّ، ‌قَالَا: ‌أَخْبَرَنَا ‌أَبُو ‌عَمْرِو ‌بْنُ ‌مَطَرٍ ‌أَخْبَرَنَا ‌أَبُو ‌بَكْرِ ‌بْنُ ‌عَلِيٍّ [‌الذُّهْلِيُّ] [ (16) ] ‌أَخْبَرَنَا ‌يَحْيَى، ‌أَخْبَرَنَا ‌أَبُو ‌مُعَاوِيَةَ، ‌عَنِ ‌الْأَعْمَشِ، ‌عَنْ ‌أَبِي ‌صَالِحٍ، ‌عَنْ ‌مَالِكٍ ‌قَالَ: ‌أَصَابَ ‌النَّاسَ ‌قَحَطٌ ‌فِي ‌زَمَانِ ‌عُمَرَ ‌بْنِ ‌الْخَطَّابِ، ‌فَجَاءَ ‌رَجُلٌ ‌إِلَى ‌قَبْرِ ‌النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‌فَقَالَ: ‌يَا ‌رَسُولَ ‌اللهِ: ‌اسْتَسْقِ ‌اللهَ ‌لِأُمَّتِكَ ‌فَإِنَّهُمْ ‌قَدْ ‌هَلَكُوا، ‌فَأَتَاهُ ‌رَسُولُ ‌اللهِ صلى الله عليه وسلم ‌فِي ‌الْمَنَامِ، ‌فَقَالَ ‌ائْتِ ‌عُمَرَ، ‌فَأَقْرِئْهُ ‌السَّلَامَ، ‌وَأَخْبِرْهُ ‌أَنَّكُمْ ‌مُسْقَوْنَ. ‌وَقُلْ ‌لَهُ: ‌عَلَيْكَ ‌الْكَيْسَ ‌الْكَيْسَ. ‌فَأَتَى ‌الرَّجُلُ ‌عُمَرَ، ‌فَأَخْبَرَهُ، ‌فَبَكَى ‌عُمَرُ ‌ثُمَّ ‌قَالَ: ‌يَا ‌رَبُّ ‌مَا ‌آلُو ‌إِلَّا ‌مَا ‌عَجَزْتُ ‌عَنْهُ.»

Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi - dengan sanad yang sahih - dari jalur Abu Shalih as-Samman dari Malik ad-Dar - penjaga rumah tangga Umar - ia berkata:

“Pernah terjadi paceklik pada masa Umar bin Khattab. Lalu datang seorang laki-laki ke makam Nabi SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, mohonkan hujan kepada Allah untuk umatmu, karena mereka telah binasa.’ Maka Rasulullah SAW mendatanginya dalam mimpi dan berkata: ‘Datangilah Umar, sampaikan salamku kepadanya, dan kabarkan bahwa kalian akan diberi hujan. Katakan juga padanya: bersikaplah cerdas, cerdaslah!’ Maka orang itu datang kepada Umar dan menyampaikan kabar tersebut. Umar pun menangis dan berkata: ‘Ya Allah, aku tidak lalai kecuali dalam hal yang memang di luar kemampuanku.’”

Catatan penting dalam riwayat ini:

  1. Makna "al-Kayyis" adalah: orang yang cerdas, cerdik, dan memiliki pemahaman yang mendalam. Sedangkan makna "ma alu illa" adalah: aku tidak lalai kecuali karena ketidakmampuan.
  2. Kisah ini sahih tanpa keraguan – penolakan Syaikh al-Albani terhadap kesahihan riwayat ini akan dijelaskan kemudian secara rinci – bahkan telah disahihkan oleh dua hafizh besar: Ibnu Katsir dalam "al-Bidayah wan-Nihayah" dan Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari".
  3. Orang yang disebutkan dalam riwayat ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari" (2/496) bahwa dialah Bilal bin al-Harits al-Muzani, salah seorang sahabat Nabi.
  4. Sayyidina Umar bin Khattab menyetujui perbuatan Bilal bin al-Harits, dan tidak mengingkarinya. Seandainya Umar melihat hal itu sebagai perbuatan syirik atau haram, niscaya dia akan melarangnya dengan tegas!

 

Adapun perkataan al-Albani dalam bukunya "at-Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu" (hal. 119):

«التوسل أنواعه وأحكامه» (ص119):

«‌بل ‌الأثر ‌ضعيف ‌من ‌أصله ‌لجهالة ‌مالك ‌الدار ‌كما ‌بيناه.»

"Sesungguhnya atsar (riwayat) ini lemah sejak asalnya karena ketidakjelasan (jahalah) Malik ad-Dar, sebagaimana telah aku jelaskan."

Ucapan al-Albani ini keliru dari dua sisi:

Sisi pertama: Bahwa sebenarnya Malik ad-Dar adalah orang yang terpercaya (ma’mul bih), bukan majhul sebagaimana diklaim oleh al-Albani. Berikut ini adalah bukti dari para imam ahli jarh wa ta'dil (kritik dan validasi perawi):

  1. Ibnu Sa’d dalam “at-Thabaqat” (5/12)

«الطبقات الكبير» (7/ 12 ط الخانجي):
«‌وروى ‌مالك ‌الدار ‌عن ‌أبى ‌بكر ‌الصّدّيق ‌وعمر، ‌رحمهما ‌الله، ‌روى ‌عنه ‌أبو ‌صالح ‌السمّان، ‌وكان ‌معروفًا.»

“Malik ad-Dar meriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan darinya meriwayatkan Abu Shalih as-Samman. Ia dikenal.”

    2. Abu Ya’la al-Khalili dalam “al-Irsyad” (1/313)
«الإرشاد في معرفة علماء الحديث للخليلي» (1/ 313):
«‌تَابِعِيُّ ، ‌قَدِيمٌ ، ‌مُتَّفَقٌ ‌عَلَيْهِ ، ‌أَثْنَى ‌عَلَيْهِ ‌التَّابِعُونَ ، ‌وَلَيْسَ ‌بِكَثِيرِ ‌الرِّوَايَةِ ، ‌رَوَى ‌عَنْ ‌أَبِي ‌بَكْرٍ ‌الصِّدِّيقِ ، ‌وَعُمَرَ»

“Ia adalah tabi'in kuno, disepakati (ketsiqahannya), dan dipuji oleh para tabi'in, meski tidak banyak meriwayatkan. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar.”

    3. Ibnu Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (56/489)

«تاريخ دمشق لابن عساكر» (56/ 489):
«‌سمع ‌أبا ‌بكر ‌الصديق ‌وعمر ‌بن ‌الخطاب ‌وأبا ‌عبيدة ‌بن ‌الجراح ‌ومعاذ ‌بن ‌جبل ‌وروى ‌عنه ‌أبو ‌صالح ‌السمان ‌وعبد ‌الرحمن ‌بن ‌سعيد ‌بن ‌يربوع ‌وابناه ‌عون ‌بن ‌مالك ‌وعبد ‌الله ‌بن ‌مالك ‌وقدم ‌مع ‌عمر ‌بن ‌الخطاب ‌الشام ‌وشهد ‌معه ‌فتح ‌بيت ‌المقدس ‌وخطبته ‌بالجابية»

“Ia mendengar dari Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Mu’adz bin Jabal...”

    4. Adz-Dzahabi dalam “Tarikh al-Islam” (2/705)

"تاريخ الإسلام" (2/ 705):

 «مالك بن عياض المدني، يعرف بمالك الدار. سمع: أبا بكر، وعمر، ومعاذ بن جبل. روى عنه: ابناه عون وعبد الله، وأبو صالح السمان، وعبد الرحمن بن سعيد بن يربوع. وكان خازنا لعمر رضي الله عنه».

"menyebut Malik bin Iyadh al-Madani dikenal sebagai Malik ad-Dar. Ia mendengar dari Abu Bakar, Umar, dan Mu’adz.

    5. Ibnu Hajar dalam “al-Ishabah” (6/216)

«الإصابة في تمييز الصحابة» (6/ 216):
‌مالك ‌بن ‌عياض «1»
: ‌مولى ‌عمر، ‌هو ‌الّذي ‌يقال ‌له ‌مالك ‌الدّار.
‌له ‌إدراك، ‌وسمع ‌من ‌أبي ‌بكر ‌الصّديق، ‌وروى ‌عن ‌الشّيخين، ‌ومعاذ، ‌وأبي ‌عبيدة.
‌روى ‌عنه ‌أبو ‌صالح ‌السمان، ‌وابناه: ‌عون، ‌وعبد ‌اللَّه ‌ابنا ‌مالك.

"Menyebut Malik bin Iyadh adalah maula Umar, dikenal dengan Malik ad-Dar. Ia memiliki pertemuan (idrak) dengan Abu Bakar dan meriwayatkan dari beliau serta Umar, Muadz, dan Abu Ubaidah."

Ibnu Hajar juga menyebut bahwa Umar menjadikannya penjaga rumah tangga, dan Ali bin al-Madini menyebutnya sebagai khazin (bendahara) Umar, menunjukkan kepercayaan tinggi kepada Malik.

Dengan ini, gugurlah tuduhan al-Albani tentang ketidaktahuan terhadap Malik ad-Dar, karena ketidaktahuan itu terbagi dua: jahalah ‘ain (tidak dikenal nama dan identitasnya) dan jahalah hal (tidak dikenal kapasitasnya). Malik ad-Dar jelas identitasnya dan kualitasnya terbukti dengan kepercayaan dari Umar bin Khattab.

Adapun ucapan al-Haitsami dan al-Mundziri yang mengatakan "aku tidak mengenalnya", telah tertolak dengan penjelasan para imam sebelumnya.

 

Sisi kedua dari kesalahan al-Albani:

Sesungguhnya al-Albani sendiri di tempat lain justru menguatkan riwayat Malik ad-Dar dalam kitabnya "Shahih at-Targhib wat-Tarhib" (1/551)Di sana ia berkata:

صحيح الترغيب والترهيب" (1/ 551)

!! نعم قال الألباني: «حسن موقوف، وعن مالك الدار: أنَّ عمر بن الخطاب رضي الله عنه أخذ أربعَمئة دينار...».

“Hasan mauquf, dari Malik ad-Dar: bahwa Umar bin Khattab mengambil 400 dinar...”

Kemudian dalam komentarnya atas riwayat tersebut, ia menolak ucapan al-Haitsami dan al-Mundziri yang menyatakan “tidak mengenalnya,” bahkan menganggapnya sebagai keanehan dari mereka. Ia menyebut Malik ad-Dar termasuk dalam kitab “ats-Tsiqat” karya Ibnu Hibban dan termasuk dari kalangan tabi'in yang tsiqah.

 

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama