Sejarah Membangun Bagunan Di Kuburan

 



Secara bahasa: Ḍarīḥ adalah liang di tengah kubur, dan ḍaraḥa al-qabr berarti menggali kubur.

Secara istilah: Makam adalah kuburan yang dibangun di atasnya suatu bangunan, dan bisa juga diberi atap berupa kubah. Oleh karena itu, makam juga disebut dengan istilah qubbah (kubah). Biasanya, makam dibangun dengan bentuk yang mewah, khususnya jika di dalamnya terdapat makam orang-orang saleh atau tokoh Islam.

Makam Nabi Muhammad ﷺ pada awalnya adalah kamar Sayyidah ‘Aisyah ra., tempat beliau wafat dan dimakamkan bersama dua khalifahnya: Abu Bakar dan Umar ra. Kemudian makam itu dimasukkan ke dalam area Masjid Nabawi (pada tahun 91 H / 709 M) pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik, saat Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah. Saat itu dibuatkan dinding berbentuk segi lima di sekelilingnya agar berbeda bentuk dari Ka'bah. Kemudian pada tahun 678 H / 1279 M, makam itu diberi kubah. Awalnya berwarna biru, lalu sejak tahun 1255 H / 1839 M dicat hijau.

Kemungkinan makam Islam pertama yang tercatat setelah itu adalah makam Khalifah Abbasiyah Al-Muntaṣir (247–248 H / 861–862 M) di tepi barat Sungai Tigris, yang dikenal sebagai Qubbat aṣ-Ṣulaibiyyah. Dikatakan bahwa Al-Muntaṣir membangunnya atas permintaan ibunya yang berasal dari Yunani. Diduga bahwa Khalifah Al-Muʿtazz dan Al-Muhtadi juga dimakamkan di sana. Kubah ini merupakan bangunan dengan atap yang sudah hilang, berbentuk segi delapan. Bagian dalamnya adalah bangunan dengan dinding luar berbentuk segi delapan dan bagian dalam berbentuk persegi. Di antara keduanya terdapat lorong dengan atap setengah silinder. Setiap sisi segi delapan luar memiliki pintu lengkung, sementara bagian dalam memiliki empat pintu utama yang mengarah ke arah mata angin. Di bagian atas ruang utama terdapat lubang atau lengkungan sudut, menunjukkan bahwa ruangan itu dahulu beratap kubah. Desain ini kemudian memengaruhi arsitektur makam Islam berikutnya.

Pembangunan makam mewah menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam dan menjadi salah satu cabang penting dalam arsitektur Islam. Gaya arsitektur dan dekorasinya beragam, sesuai dengan corak seni yang berkembang pada zamannya.

Beberapa makam kuno yang terkenal antara lain:

  1. Makam Ismail Samani di Bukhara (abad ke-4 H),
  2. Makam Timur di Samarkand (807 H / 1404 M),
  3. Makam Ulugh Beg di Ghazni (853 H / 1449 M),
  4. Makam Khalid bin Walid di Homs,
  5. Makam Shalahuddin Al-Ayyubi di Damaskus,
  6. Makam Husain,
  7. Makam Sayyidah Zainab di Kairo,
  8. Makam para imam Syiah di Irak dan Iran,
  9. Makam para imam Zaidiyah di Sha’dah, Yaman.


Dinasti Fatimiyah di Mesir membangun banyak makam, terutama untuk Ahlul Bait, dan makam ini juga disebut sebagai mashahid. Contohnya makam Sayyidah Ruqayyah di Jalan Al-Ashraf Khalil, Kairo (527 H / 1132 M). Di Museum Seni Islam Kairo terdapat mihrab dari makam tersebut yang terbuat dari kayu dengan teknik sambung dan menunjukkan keahlian seni ukir kayu Fatimiyah. Beberapa makam Fatimiyah juga memiliki mihrab untuk penunjuk arah kiblat, seperti Mashhad Sab’ah wa Sab’in Waliyyan di Aswan.

Pada masa Ayyubiyah, dibangun makam Imam Syafi’i di Kairo, dengan kubah didirikan oleh Sultan Al-Kamil Al-Ayyubi (608 H / 1211 M), berupa kubah kayu berlapis timah dan dihiasi model perahu dari tembaga di puncaknya. Di dalamnya terdapat peti kayu buatan Ibn Ma‘ālī An-Najjār. Pada akhir masa Ayyubiyah dan awal Mamluk, dibangun makam Sultan Al-Malik As-Salih Najmuddin Ayyub dan istrinya Syajar Ad-Durr di Jalan Al-Mu‘izz Li-Dinillah Al-Fathimi, Kairo.

Makam Islam paling terkenal di dunia adalah Taj Mahal di Agra, India. Ini adalah salah satu bangunan Islam terbesar yang didirikan oleh Sultan Mughal Shah Jahan pada tahun 1041 H / 1621 M sebagai makam untuk istrinya Mumtaz Mahal, dan ia sendiri juga dimakamkan di sana. Taj Mahal adalah bangunan besar dari marmer putih dengan kubah utama besar, dikelilingi oleh empat kubah kecil yang masing-masing bertumpu pada delapan lengkungan. Keindahan bangunan ini dilengkapi taman luas yang indah dengan pepohonan, pembagian geometris, dan kolam yang menghadap ke fasad megah bangunan.

Makam bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan bangunan lain seperti masjid, madrasah, atau khanqah (tempat sufi). Masjid Al-Juyushi yang dibangun oleh Badr Al-Jamali di Gunung Muqattam, timur Kairo, adalah masjid pertama di Mesir yang mencakup makam. Banyak masjid di Mesir pada masa Mamluk, Ottoman, dan sesudahnya memiliki makam para tokoh, terutama para sufi. Di antaranya:


  1. Masjid Abu Al-‘Abbas Al-Mursi di Alexandria,
  2. Masjid Abdul Rahim Al-Qinawi di Qena,
  3. Masjid Abu Al-Hajjaj di Luxor,
  4. Masjid Ibrahim Ad-Dusuqi di Desuq,
  5. Masjid Ahmad Al-Badawi di Tanta,
  6. Masjid Ismail Al-Imbabi di Imbaba.

Sejak masa Sultan Nuruddin Mahmud (541–569 H / 1146–1173 M), madrasah-madrasah di Suriah mulai memiliki makam pendirinya. Tradisi ini juga diterapkan di Mesir pada masa Mamluk. Salah satu makam Mamluk termegah adalah makam Sultan Qalawun, yang memiliki mihrab bersejarah terbesar di Mesir.


Contoh madrasah Mamluk yang memiliki makam:

  1. Madrasah Barquq di Al-Nahhasin,
  2. Madrasah Sultan Hasan,
  3. Madrasah Sarghitmish di Jalan As-Salibah,
  4. Madrasah Qaytbay di Sahara Al-Mamalik.

Khanqah tertua di Mesir yang memiliki makam adalah Khanqah Baybars Al-Jashankir (706 H / 1306 M), dibangun sebelum ia menjadi sultan. Di sampingnya didirikan ribath besar yang kini sudah hilang, dan terdapat lorong yang menghubungkan keduanya. Di khanqah ini terdapat kubah besar (makam) yang selesai dibangun tahun 709 H / 1309 M. Di antara khanqah termegah di Mesir adalah Khanqah Faraj bin Barquq di Qarafah Al-Mamalik (803–813 H / 1400

–1410 M), yang memiliki dua kubah, dua menara, dan dua sumur air.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama